MIND POWER TRANSFORMATION

PENDAHULUAN

Dalam menghadapi situasi kerja dibutuhkan SDM yang siap berkembang & berubah ke arah yang lebih baik, yaitu para pegawai yang memiliki faktor psikologis (mental) yang tangguh, tak mudah menyerah, bekerja dengan kesadaran diri yang maksimal bukan sekedar memenuhi standar operating procedure (SOP). Ketika kondisi kenyamanan psikologis dimiliki oleh setiap karyawan maka kinerjanya menjadi produktif dan maksimum. Oleh karena itu pada kesempatan ini kami mengajukan kerjasama dalam pelatihan peningkatan kualitas SDM yang kami beri nama BEYOND THE LIMIT – Mind Power Transformation.

Program ini dapat membantu para staf & manager menemukan kenyamanan psikisnya yang dampaknya bekerja optimum dengan pikiran positif dan menerima perubahan yang terus menerus (Continous Positive Transformation). Program kami menggunakan metode Psychology, NLP (Neuro Linguistic Program) dan Time Line Therapy, tentunya sangat bermanfaat bagi Perusahaan, karena para peserta sebagai leader seharusnya mampu menunjukkan kinerja sebagai teladan bagi yang lainnya.

Dengan segala kerendahan hati, program ini sudah diselenggarakan di berbagai Perusahaan dan BUMN di Indonesia juga sudah diselenggarakan 3 batch di Malaysia, dengan lebih dari 60 kelas dan lebih dari 4.700 orang peserta yang telah mengikutinya.

LATAR BELAKANG

Sebuah perubahan harus terjadi. Management Perusahaan berubah, maka individu juga berubah (seharusnya), demikian sebaliknya. Kehidupan selalu ditandai dengan perubahan. Change is The Only evidence of Life (Evelyn Waugh). Sebuah organisasi atau Institusi yang Sehat, akan selalu terbuka dengan ide-ide perubahan yang mampu menghantarkannya menjadi Institusi yang terus berkembang. Perubahan mengambil peran dan tempatnya. Hanya orang-orang yang bersedia melihat gejala perubahan yang nantinya akan mampu mengantisipasi tingkat ketidakpastian. Ada tahapan perubahan yang wajib dituntaskan yaitu “melihat”, “bergerak” dan “menyelesaikan” perubahan itu.

Perubahan baik diri sendiri (personal context) dan sosial (social / organization context) akan melibatkan sebuah proses penting yaitu TRANSFORMASI. Transformasi melibatkan sebuah proses perubahan mendasar yang sering disebut sebagai Fundamental Change. Dua hal penting dalam sebuah proses transformasi adalah Kepemimpinan (Leadership) dan Budaya Perusahaan (Corporate Culture). Keduanya tak dapat dipisahkan dan memiliki peranan penting, yaitu:

1.        Menghadapi, mencari cara dan melewati situasi dari kondisi ketidakpastian yang semakin tinggi.
2.       Mengelola serta memenangkan semua situasi dan kondisi yang ada dan mengembangkannya menuju kebesaran (greatness) baik diri sendiri maupun organisasi menjadi great people / leader dan great organization / company.

Pengetahuan dan keterampilan mengelola kepemimpinan serta budaya organisasi inilah yang menentukan kebesaran diri seorang pemimpin sekaligus kebesaran organisasi dibawah kepemimpinannya. Pemimpin sebagai seorang human being berhak dan wajib memenuhi kodratnya menjadi manusia besar (pemimpin besar) dan hanya pemimpin besar yang mampu membawa organisasi yang dipimpinnya menjadi besar.

Ada sebuah prinsip perubahan yang dimulai dari sebuah kesadaran dari setiap individu, yaitu : For Things to Change, I Must Change First – Agar Sesuatu berubah, Saya harus berubah terlebih dahulu. Inilah sebuah proses kesadaran diri yang harus dimiliki oleh setiap individu dalam Institusi. Namun, tidak sedikit individu yang ingin berubah. Banyak individu yang sentiasa ingin berada di zona nyaman (comfortable zone) dan tidak ingin masuk  ke wilayah perubahan yang serba tidak pasti.

Transformasi budaya dimulai dari transformasi pribadi. Institusi tak dapat melakukan transformasi hanya manusia yang dapat melakukannya.

Sebuah perubahan, dapat terjadi karena 3 faktor :
1.   Individu berubah, karena ada rasa sakit (Pain). Ada ancaman yang menyebabkan seseorang harus berubah. Misalnya : Seseorang ingin mengerjakan tugasnya dengan baik karena ada ancaman dipecat dan dikeluarkan dari Institusi.
2.  Individu berubah, karena ada sesuatu yang didapatkannya berupa kesenangan (Pleasure). Misalnya : Pemberian Bonus.
3.   Seorang individu berubah, karena alasan kesadaran diri, misalnya CINTA. Saat seseorang berubah karena CINTA, ia sudah tidak perduli lagi dengan nilai-nilai yang sifatnya materialistis. Ia akan bergerak karena ia menganggap apa yang dilakukannya, sebagai sebuah perjalanan spiritual dalam membuat Mahakarya Indah dalam setiap apa yang dikerjakannya.

Di era masa ini situasi dan lingkungan dalam Institusi menjalankan rodanya berubah secara dramatis, segala sesuatunya tidak stabil. Saat ini yang diperlukan adalah para staf yang memiliki inovasi, kreativiti, adaptabiliti serta komitmen dalam memenangkan persaingan agar organisasi atau Institusi mampu survive. Maka para staf yang masih mempunyai mindset (pola pikir) dan cara kerja “masa lalu” tidak akan mampu bertahan apalagi menjadi great employee.

Dalam situasi tersebut Institusi secara berkesinambungan dan konsisten dituntut untuk menarik (attract) dan menjaga (retain) orang-orang yang berkualiti (talented people), meningkatkan keuntungan dan shareholder value serta membangun budaya Institusi (corporate culture) yang Sehat dan kuat. Tegasnya, yang akan bertahan dan sukses hanyalah Institusi-Institusi yang memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan dan mengelolanya ke dalam fungsi organisasi keseharian.
Pada masa sekarang nilai-nilai Institusi (corporate values) menjadi sangat penting dibandingkan masa lalu. Barret (1998) mengatakan, “Who you are as an organization and what you stand for, are becoming just as important as what you sell’.

Yang melaksanakan nilai-nilai Institusi adalah para staf, maka nilai-nilai Institusi juga harus mampu memenuhi keperluan para staf, membantu dan mendukung mereka untuk menemukan “pemenuhan pribadinya” (personal/employee fulfillment), yaitu:

1.         Pemenuhan Fisik (Physical Fulfillment): berhubungan dengan Compensation dan Benefit System yang profesional, fasilitas kerja dan rekreasi yang memuaskan serta faktor-faktor lain yang berhubungan dengan fisikal staf.
2.    Pemenuhan Emosi (Emotional Fulfillment): berhubungan dengan komunikasi yang harmonis dan terbuka, apresiasi terhadap pekerjaan, perkembangan karir profesional, lingkungan kerja dan management yang kondusif.
3.         Pemenuhan Mental (Mental Fulfillment): berhubungan dengan kesempatan untuk belajar, mengekspresikan kreativiti pribadi, pertumbuhan pribadi serta pertanggungjawaban yang jelas.
4.         Pemenuhan Spiritual (Spiritual Fulfillment): berhubungan bagaiman pekerjaan yang ada mempunyai makna pribadi, berkembangnya naluri untuk menjadi pribadi yang unik dan berbeda dan kesempatan untuk melakukan pengabdian.

Institusi yang mampu memenuhi keempat tingkat employee fulfillment mempunyai kesempatan besar untuk menjadi Institusi paling sukses di masa mendatang.

Ada tiga (3) pemenuhan pribadi yaitu Emosi, Mental dan Spiritual yang berada dan tersimpan dalam pikiran bawah sadar (Unsconsious Mind).

Apakah mungkin Institusi menjadi sukses di masa datang apabila para staf tidak terpenuhi ketiga hal pemenuhan pribadi itu (emosi, mental dan spiritual)?

Apakah karakter positif staf yang diharapkan akan muncul apabila Institusi tidak mampu memenuhi keperluan pribadinya itu?

Menurut penelitian para ahli psychologist, faktor yang yang mempengaruhi karakter manusia (Attitude) adalah Pikiran Bawah Sadar (Unsconsciousness Mind) yaitu mencapai 88%, sedangkan Pikiran Sadar (Consciousness Mind) hanya 12%. Limiting Beliefs (batas keyakinan) setiap individu berbeda karena terbentuk pengalaman masa lalu. Batas keyakinan yang rendah sangat dipengaruhi oleh pembentukan pola pikir dari orang tua atau keluarga serta lingkungan.

Metode konseling yang dilakukan para ahli psikologi era 1970-an memerlukan waktu yang cukup lama dalam membantu individu untuk keluar dari permasalahan dirinya. Sedangkan penemuan yang dilakukan pada tahun 1950-an oleh DR. Richard Bandler dan DR. John Grinder yang dinamakan NLP (Neuro Linguistic Programming), lalu kemudian pada tahun 1980-an dipopulerkan oleh Anthony Robbins dan metode itu diakui di Amerika Serikat, negara-negara di Eropa, Australia dan Asia termasuk Malaysia dan Indonesia.

Karena menggunakan cara yang praktis dan dalam waktu yang relatif singkat mampu mengubah Pola Pikir yang menghambat seseorang pada akhirnya mengubah kehidupannya menjadi lebih baik. Dan uniknya dengan metode ini bahwa klien (baca: peserta) tidak harus menceritakan permasalahan yang dihadapi atau mengganggu kehidupannya (rahasianya tersimpan dengan baik). Kemudian Anthony Robbins mengubah nama program itu menjadi NAC (Neuro Accelarated Conditioning). Banyak tokoh yang telah menggunakan metode ini diantaranya Andre Agassi, Nelson Mandela, Tiger Wood, Michael Pelps termasuk Bill Clinton, Ronald Reagan dan Barrack Obama serta masih banyak lainnya.

Tuntutan untuk bersaing secara Sehat menuju hidup sukses yang semakin tinggi dihadapi setiap individu (para staf), tentunya memerlukan kemampuan yang tidak hanya berupa knowledge (ilmu Pengetahuan), namun juga memerlukan perubahan Pola Pikir yang tepat sesuai dengan kondisi yang dihadapi saat ini.

Dalam program training TRANSFORMATION WITH MIND POWER kami menggabungkan tehnik-tehnik NLP, aplikasi Time Line Therapy, Hypnotherapy dan Psychology (Mass Conseling), sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh para peserta dalam waktu singkat. Karena biasanya pelaksanaan pelatihan NLP dan Time Line memerlukan waktu 5 hari masing-masingnya, namun dengan penggabungan metode diatas maka pelatihan dilakukan dalam waktu hanya 1 (satu) hari.

METODE TRAINING

1.              Menggunakan dasar ilmu Psychology.
2.   Menggunakan penerapan tehnik-tehnik NLP (Neuro Linguistic Programming) yang diciptakan oleh DR. Richard Bandler dan DR. John Grinder.
3.              Menggunakan penerapan tehnik Time Line Therapy yang diciptakan oleh DR. Ted James.
4.    Menggunakan aplikasi Hypnotherapy yang dapat dipergunakan para peserta didalam pekerjaannya.
5.              Entertaining, Inspiring dan Motivating.
6.              Peserta diajak untuk terlibat 100 % dalam setiap proses pelatihan ini.
7.              Training yang menerapkan Experiential Learning Process
8.              Didukung oleh Audio Visual dan Multimedia yang menggugah.
9.              Diskusi Interaktif dan Refleksi Diri

MANFAAT TRAINING

1.          Kekuatan pikiran dan perubahan paradigma.
2.          Komunikasi terbuka & efektif.
3.          Berpikir positif dan pantang menyerah dalam keadaan apapun.
4.          Konkruen antara ucapan dan tindakan.
5.          Melaksanakan komitmen dengan kesadaran diri yang tinggi.
6.    Peserta memiliki Personal Vision  yang besar dalam kehidupannya, semangat kerja yangtinggi untuk berpartisipasi dalam proses pencapaian Goal dan Visi Institusi.
7.         Munculnya kesadaran yang tinggi untuk memberikan kontribusi terbaiknya bagi keluarga, perusahaan, dan lingkungan sekitar.
8.    Membangun koneksi dan kohesivitas peserta dalam Institusi, sehingga terbangun sebuah semangat kolektif.